Kamis, 13 Mei 2010
psikologi behavior
btw,,bosen ya klo gw posting novel n gosip2,,mendingan gue bagi2 ilmu tentang ilmu psikologi...
baca sendiri yuaaaa hehehe
TEORI BEHAVIOR
Apa itu Behaviorisme?
Behavior dalam psikologi atau juga disebut behaviorisme adalah teori pembelajaran yang didasarkan pada tingkah laku yang diperoleh dari pengkondisisan linngkungan.
Pengkondisian terjadi melalui interaksi dengan lingkungan. Teori ini dapat dipelajari secara sistematis dan dapat diamati dengan tidak mempertimbangkan dari seluruh keadaan mental.
Ada dua tipe pengkondisian dalam behavior:
1. Classical conditioning adalah cara yg digunakan dalam percobaan behavior yang stimulusnya terjadi secara natural yang dihubungkan dengan respons yakni dengan stimulus netral. Respon akan hadir dengan sendirinya tanpa respon yang disengaja.
2. Operant conditioning adalah cara yang digunakan dalam behavior dengan diakhiri dengan hadiah dan hukuman.
5 pemikir besar dalam behavior adalah :
1. Ivan pavlov
2. B. F. Skinner
3. Edward Thorndike
4. John B. Watson
5. Clark Hull
Kritik terhadap teori behavior:
Teori ini hanya menggunakan pendekatan satu dimensi saja dalam memandang perilaku.
Proses belajar terjadi hanya dengan adanya penguatan atau hukuman
Manusia dan hewan dapat beradaptasi dengan tingkah lakunya ketika informasi baru itu dikenalkan, walapupun pola tingkah laku sebelumnya telah diketahui melalui penguatan.
Kelebihan teori behavior:
Teori behavior adalah didasarkan pada perilaku yang dapat diobservasi, sehingga mempermudah pengukuran dan pengumpulan data dan informasi ketika penelitian.
Teknik terapi yang didasarkan pada behaviorisme antra lain intervensi tingkah laku secara intensif, lebih ekonomis, dan pelaksanaannya memiliki ciri tersendiri. Pendekatan ini sangat berguna untuk merubah perilaku yang berbahaya dan maladaptif baik pada anak dan dewasa.
Pendahuluan clasical conditioning
3 asumsi dasar dalam Behaviorism :
1. pembelajaran terjadi melalui interaksi dengan lingkungan
2. lingkungan membentuk perilaku
3. proses mental tidak digunakan sebagai pertimbangan dalam menjelaskan perilaku
Satu aspek teori behavioral yang paling terkenal adalah classical conditioning yang dikemukakan oleh Ivan Pavlov yang mempelajari proses pembelajaran melalui asosiasi antara rangsangan lingkungan dan rangsangan yang terjadi secara natural.
Prinsip dasar proses behavioral:
1. Rangsangan yang tidak terkondisikan, yaitu pemicu terjadinya respon yang tidak terkondisikan, terjadi secara natural, dan otomatis.
2. Respon yang tidak terkondisikan, yaitu respon yang tidak dipelajari yang terjadi secara natural dalam merespon rangsangan yang tidak terskondisikan.
3. Rangsangan yang terkondisikan, yaitu pada awalnya merupakan stimulus netral, setelah diasosiasikan dengan rangsangan yang tidak terkondisikan, kemudian memicu munculnya respon yang terkondisikan.
4. Respon yang terkondisikan, yaitu respon yang dipelajari dari rangsangan netral sebelumnya.
Classical conditioning di dunia nyata
Pada kenyataannya, manusia tidak merespon sama persis dengan anjing Pavlov. Teknik classical conditioning ini banyak di aplikasikan di dunia nyata. Misalnya digunakan pada treatment masalah phobia atau kecemasan. Para guru juga dapat menerapkan teknik ini untuk menciptakan lingkungan kelas yang positif untuk membantu murid-murid mengatasi kecemasan atau ketakutan.
Tambahan tentang classical conditioning yaitu dapat digunakan untuk meningkatkan jumlah perilaku, tetapi dapat juga digunakan untuk mengurangi perilaku
Prinsip-prinsip classical conditioning
Behavioris telah menjelaskan sejumlah fenomena yang berbeda terkait dengan classical conditioning.Beberapa unsur ini melibatkan pembentukan awal respon, sementara yang lain menggambarkan hilangnya respon.Unsur-unsur penting dalam classical conditioning
Akuisisi adalah tahap awal pembelajaran ketika respon pertama kali dibentuk dan diperkuat secara bertahap.
Kepunahan terjadi ketika kejadian penurunan respon yang dikondisikan atau menghilang. Classical conditioning, ini terjadi ketika sebuah stimulus dikondisikan tidak lagi dipasangkan dengan stimulus tanpa syarat.
Pemulihan spontan adalah kemunculan kembali respon yang terkondisi setelah waktu istirahat atau periode respon berkurang. Jika stimulus yang terkondisi dan yang tidak terkondisi
Generalisasi stimulus adalah kecenderungan untuk stimulus yang dikondisikanuntuk membangkitkan respon serupa setelah mendapat respon yang dikondisikan.
Diskriminasi adalah kemampuan untuk membedakan antara stimulus yang dikondisikan dan stimulus lain yang belum dipasangkan dengan stimulus yang tidak dikondisikan.
Anjing Pavlov
Konsep dari classical conditioning dipelajari dari setiap level-catatan murid psikologi, maka ini mungkin saja akan mengejutkan dalam mempelajari bahwa pria yang pertama kali menyadari fenomena ini adalah bukan dari bagian psikologi. Ivan Pavlov tercatat sebagai ahli fisiologis Rusia yang mendapatkan penghargaan Nobel atas hasil kerjanya dalam mempelajari proses pencernaan.
Air liur, menurutnya, adalah sebuah proses reflektif. Air liur dapat secara otomatis merespon stimulus spesifik dan tidak berada di dalam alam sadar. Bagaimanapun, Pavlov e/mencatat bahwa anjing akan sering mengeluarkan air liur ketika kedatangan bau makanan. Ia dengan cepat menyadari bahwa respon air liur ini tidak terjadi secara otomatis, akan tetapi merupakan proses fisiologis.
Perkembangan Teori Classical Conditioning
Berdasarkan hasil pengamatannya, Pavlov berpendapat bahwa air liur adalah sebuah respon yang dipelajari. Anjing merespon ketika melihat jas putih lab asisten peneliti, dimana binatang tersebut akan berasosisasi dengan kedatangan makanan. Tidak seperti respon air liur pada saat kedatangan makanan, dimana hal itu merupakan sebuah refleks yang tidak dikondisikan, air liur pada harapan akan datangnya makanan adalah refleks yang terkondisikan.
Pavlov lalu fokus pada penyelidikan yang lebih tepat bagaimana respon yang terkondisikan dipelajari atau diperoleh. Dalam percobaannya, Pavlov mebentuk suatu keadaan untuk mewujudkan respon yang dikondisikan menjadi stimulus netral sebelumnya. Ia kerap kali menggunakan makanan sebagai stimulus yang tidak dikondisikan, atau stimulus yang membangun sebuah respon natural dan otomatis. Suara dari metronome dipilih sebagai stimulus netral. Anjing pertama-tama akan di berikan suara dari metronome yang dibunyikan, dan kemudian makanan akan datang tak lama kemudian.
Setelah beberapa percobaan pengkondisian, Pavlov menemukan bahwa anjing mulai mengeluarkan air liur setelah mendengar suara metronome. Pavlov menulis pada hasilnya, “Kami telah mengobservasi itu, setelah beberapa pengulangan pada stimulasi yang berkombinasi, suara dari metronome mendapat bagian dalam menstimulus pengeluaran air liur”. Dengan kata lain, stimulus netral sebelumnya (metronome) telah menjadi sesuatu yang diketahui sebagai stimulus yang terkondisikan yang kemudian mendorong respon yang terkondisikan (air liur).
Penemuan Pavlov tentang classical conditioning mengingatkan pada sesuatu yang penting dalam sejarah psikologi. Dalam hal memberikan dasar pada apa yang akan menjadi psikologi behavioral, proses pengkondisian mengingatkan pada berbagai macam terapan-terapan termasuk modifikasi perilaku dan pengobatan kesehatan mental. Classical conditioning sering digunakan sebagai pengobatan fobia, kecemasan dan gangguan panik.
Pengkondisian untuk merasakan keengganan terjadi ketika stimulus netral (memakan suatu jenis makanan) dipasangkan dengan respon yang tidak terkondisikan (menjadi sakit setelah memakan makanan). Tidak seperti bentuk lain dari classical conditioning, tipe pengkondisian ini tidak membutuhkan banyak pasangan dalam hal sebuah asosiasi menjadi terbentuk. Pada kenyataannya, merasakan keengganan umumnya terjadi setelah berpisah. Pengusaha peternakan telah menemukan cara yang berguna yang diambil dari pengkondisian klasik yang digunakan dengan baik dalam melindungi ternak mereka. Dalam sebuah contoh, daging domba telah disuntik dengan obat yang membuat mual. Setelah memakan daging beracun tersebut, serigala akan menghindari ternak domba dibanding menyerang mereka.
Teori pengkondisian klasik Pavlov dijadikan bagian penting dalam sejarah psikologi, hasil kerjanya ini menginspirasi berbagai penelitian saat ini. Dalam rentang 1997-2000, lebih dari 220 artikel yang didasarkan pada penelitian awal Pavlov mengenai pengkondisian klasik muncul dalam jurnal ilmiah. Pavlov bukan seorang psikolog tetapi kontribusinya membantu disiplin ilmu psikologi hingga menjadi seperti saat ini dan mungkin akan berlanjut untuk membentuk pemahaman kita mengenai perilaku manusia di tahun-tahun mendatang.
Minggu, 30 November 2008
lo perlu tau neh!! dan jangan ditiru yee...


Waspadai Bullying !!
Mungkin (dulu… di SD, SMP, di BOEDOET) kita pernah melakukan tindak bullying, atau pun menjadi korban bullying, dalam intensitas rendah hingga tinggi. Sebagai pelaku utama (leading actor) atau pun supporting actor (pemeran pembantu).
Bullying mungkin masih merupakan kosa kata yang asing bagi kita atau pun baru terdengar akhir2 ini seiring dengan pemberitaan seputar kasus di IPDN dan kasus penembakan oleh Cho Seung-Hui (yang merupakan korban bullying) di Virignia Tech.
Ini mungkin kasus-kasus yang lumayan menyita perhatian karena pemberitaannya yang intensif dengan jumlah korban yang besar. Namun keduanya terjadi di lingkungan pendidikan tinggi. Waspadai -karena bullying bahkan terjadi di sekolah dasar. Dari beberapa kasus yang ditangani beberapa waktu belakangan ini dengan baragam keluhan di awalnya (keluhan dari orangtua), terkuak -ternyata siswa2 SD pun mengalami episode bullying oleh teman-temannya yang sebagian besar terjadi di lingkungan sekolah.
Mungkin saja ini terjadi pada anak-anak kita saat ini.
Apa sih BULLYING?
Penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok, sehingga korban merasa tertekan, trauma dan tidak berdaya. Kejadiannya selalunya berulang.
Bagaimana bentuk Bullying?
1. Secara fisik: mendorong dengan sengaja, memukul, menampar, memalak atau meminta paksa barang yang bukan miliknya (lazim pada anak laki-laki)
2. Secara verbal: memaki, mengejek, calling names, menggosip (lebih pada anak perempuan)
3. Secara psikologis: mengintimidasi, mengecilkan, mengabaikan dan mendiskriminasikan.
4. bahkan yang lebih canggih dengan mengirim ejekan melalui SMS atau MMS di telepon selular atau pun melalui email.
Cenderung terjadi pada anak yang terkesan lemah, berbeda dari yang lain, tidak berdaya untuk membela diri, tidak punya banyak teman.
Dampak Bullying:
Akibat bullying ini tidak dapat dikatakan main-main. Ianya mengganggu perkembangan sosial dan emosional anak mulai dari yang ringan, sedang hingga yang serius dan mampu berakibat pada kematian. Yakni:
• Prestasi belajar menurun
• Phobia sekolah
• Gelisah, sulit tidur
• Gangguan makan
• Menyendiri, mengucilkan diri
• Sensitive, lekas marah
• Agresif , bersikap kasar pada orang lain(contoh: kakak atau adik)
• Depresi
• Hasrat bunuh diri
(Data dari Jepang dinyatakan bahwa 10% korban bullying mencoba bunuh diri)
Yang Patut Diingat:
• Korban bisa anak laki-laki maupun perempuan
• Pelaku juga dapat anak laki-laki atau pun perempuan
• Biasanya terjadi di waktu yang tidak ada pengawasan guru; sebelum pelajaran dimulai, jam istirahat, pulang sekolah, di kantin, di WC.
• Menganggap bahwa itu hanya kegiatan ‘iseng belaka’ dan ‘kamu akan baik-baik saja’ bukan lah respon atau sikap yang diharapkan korban dari orang dewasa
• Bullying (ternyata) juga dapat dilakukan oleh orang dewasa, seperti guru di sekolah, guru les, tetangga, oom & tante, bahkan orangtua sendiri!
• Ancaman untuk bunuh diri dari korban. Jangan pernah anggap remeh dengan ancaman yang satu ini.
• Beberapa sekolah di Jakarta masih banyak yang menganggap bullying adalah hal yang ‘jamak’. Pastikan pihak sekolah anak-anak kita ‘aware’ akan hal ini.
Apa yang Orangtua dapat Lakukan:
• Selalu amati dan kenali perilaku anak-anak kita sehari-hari.
• Bila ternyata anak kita merupakan korban, dengarkan apa yang ingin ia sampaikan (meskipun kesannya ‘sepele’), “aku gak mau sekolah… aku gak suka temanku… temanku jahat ”. Pada anak yang lebih kecil: “temanku nakal”. Kurang lebih ‘cry for help’ mereka adalah seperti itu.
• Ajarkan anak untuk berbicara dan terbuka pada orang dewasa di sekolah, misal: guru, wali kelas, guru BP, kepsek.
• Untuk tetap berada di kelompok, terutama di waktu yang tidak terawasi guru
• Tidak terlalu disarankan to fight back pada pelaku. Tetapi cukup mengatakan: “Hentikan, saya tidak suka dengan perlakuan kamu” dan kemudian tinggalkan si pelaku.
• Latih anak bagaimana berperilaku (anticipated coping behavior) jika kejadian berulang.
• Ajari anak untuk bersikap asertif pada banyak hal (they’re gonna need it in the future, anyway)
• Terkadang mengajak anak untuk berempati pada pelaku (karena kemungkinan si pelaku juga merupakan korban bullying juga) bisa cukup membantu.
• Pastikan bahwa “Anak merasa nyaman untuk menjadi dirinya”. Ini yang penting tentunya.
• Jangan tunggu lama untuk menyelesaikan masalah atau mencari pertolongan professional jika gejala terlihat mengarah ke serius. The sooner the better.
Minggu, 10 Agustus 2008
baca nih...tentang temen + idola gw..hehehe
Adrian Martadinata - Cerita Kita (album 2008)
Wed, 07/23/2008 - 23:12 — samu 
Adrian Martadinata, seorang musisi muda, penyanyi sekaligus pencipta lagu yang sedang naik daun di blantika musik Indonesia. Kiprahnya beberapa tahun belakangan ini dimulai dari menulis lagu untuk “Andien”, “Rieke Roeslan”, dan “Marcel”, sampai turut andil dalam proses rekaman dan produksi band – band modern pop, seperti “Parkdrive” dan “Sova”. Terlahir sebagai musisi yang serba bisa, Adrian pun kerap menjadi sosok di atas panggung dengan permainan gitarnya bersama nama – nama besar seperti “Glenn Fredly”, “Maliq n d’Essentials”, dan “ Astrid”.
Selain bekerja sebagai musisi freelance, Adrian juga berpengalaman sebagai penyiar radio, dimana ia bisa bereksperimen lewat programnya sendiri, mengajak pendengar mudanya untuk berinteraksi dan saling tukar pikiran. Di acara inilah ia dapat membawakan komposisinya sendiri secara live.Reaksinyapun sungguh diluar dugaan, 500 pendengar setianya terus berinteraksi dan me – request lagunya setiap malam.Sebagai seorang musisi, Adrian tidak pernah berhenti berkarya, terus mencari warna dan jati dirinya. Kini setalah sekian lama keluar masuk studio rekaman, tampil dari panggung ke panggung, Adrian akhirnya siap untuk mempersembahkan sepuluh karyanya yang merupakan curahan isi hati dan refleksi perjalannya. “Lagu – lagu ini mencerminkan siapa dan diman dia berada pada saat ini, dan adalah sepuluh tembang dimana dirinya bisa berbagi cerita dengan pendengar Adrian merasa musiknya akan lebih hidup dan kaya bila disuguhkan dalam format rock trio. Bergabung dengannya adalah kedua sahabat baiknya, Oman Nikmanlupita pada Drum dan Ikhwan Siregar pada Bass; Session Musician yang juga telah banyak tampil dan keluar masuk dapur rekaman bersama “Tangga”, “Judika Idol”, dan “Shandy”. Bersama Adrian Martadinata, dua sahabat ini siap untuk berbagi idealism bermusik mereka.Bekerja sama dengannya; dua lulusan Berklee College of Music, Rayendra Sunito dan Juno Adhi dari “parkdrive”; turun tangan sebagai producer dalam pembuatan album perdana ini. Diantaranya terdapat juga musisi – musisi muda ternama seperti Ali Akbar dari “The Groove”, Phillipe dari “The Sixth Element”, Badai dari “Kerispatih”, Ifa dari “Maliq” yang ikut mengisi dalam proses rekaman.
Track List:
01. Ajari Aku
02. Aku Lebih Baik
03. Beribu Cara
04. Always Be There
05. Menunggumu
06. Behind The Star
07. Satu Yang Ku Mau
08. Cinta Sejati
09. Satu Ampun
10. Seharusnya
11. Sendiri (Bonus Track)
Dowmload track
perlu dibaca...
Nih…informasi bwt loe2 para cewek2….be careful okey!!!
Bahaya Kanker Serviks Bagi Wanita
Menurut perkiraan Departemen Kesehatan saat ini ada sekitar 200 ribu kasus setiap tahunnya.
Penderita kanker mulut rahim di
Menurut Dr. Bambang Dwipoyono SpOG dari divisi Kanker Ginekologik RS Kanker Dharmais Jakarta, faktor resiko epidemiologik penyumbang terjadinya dan berkembangnya kanker serviks adalah infeksi virus papiloma manusia atau Human Virus Papilloma (HVP). Akibat yang ditimbulkan penyakit ini diantaranya berupa penurunan harapan hidup, lamanya penderitaan, dan tingginya biaya pengobatan. “Karena itu upaya prevensi harus mulai dilakukan,” tegas Bambang.
Dia menyebutkan, berdasarkan data RS Kanker Dharmais, pasien yang menderita kanker serviks pada stadium lanjut pada tahun 1993-1997 sebanyak 710 kasus baru. Sebesar 65 persen pasien datang pada stadium lanjut (IIB-IV). Angka ketahanan hidup dalam dua tahun stadium lanjut tersebut berkisar 53,2 persen dan untuk stadium awal hampir 90 persen.
Bambang juga menambahkan, penelitian yang dilakukan Bank Dunia mendukung pendapat bahwa program penapisan kanker serviks tak hanya menyelamatkan jiwa tapi juga biaya yang dikeluarkan jadi murah. Sebagai perbandingan, program penapisan untuk satu orang untuk setiap
Jika menilik perjalanan penyakit itu, menurut Bambang, hampir 90 persen kasus berasal dari epitel permukaan (epitel skuamosa). Didapatkan suatu keadaan yang disebut pembakal kanker atau prakanker. Keadaan tersebut dimulai dari yang bersifat ringan sampai menjadi karsinoma in situ yang semuanya dapat didiagnosa dengan skrining atau penapisan. Dalam proses perkembangannya, dapat terjadi perubahan atau perpindahan daru satu tingkat ke tingkat yang lain. “Dari yang ringan ke yang lebih berat atau sebaliknya,” papar Bambang.
Terjadinya perubahan tersebut diperlukan keadaan yang “cocok”, sehingga untuk menjadi kanker diperlukan waktu 10-20 tahun. Namun jika sudah menjadi kanker stadium awal, penyakit ini dapat menyebar ke daerah di sekitar mulut rahim.
Kondisi prakanker sampai karsinoma in situ (stadium 0) sering tak menunjukkan gejala karena proses penyakitnya berada di dalam lapisan epitel dan belum menimbulkan perubahan yang nyata dari mulut rahim. Pada akhirnya gejala yang ditimbulkan adalah keputihan, perdarahan paska sanggama dan pengeluaran cairan encer dari vagina. Lalu jika sudah menjadi invasif akan ditemukan gejala seperti perdarahan spontan, perdarahan paska sanggama, keluarnya cairan (keputihan) dan rasa tak nyaman saat melakukan hubungan seksual.
Dalam perjalanannya, lanjut Bambang, penyakit kanker mulut rahim membutuhkan waktu yang cukup lama dari kondisi normal sampai menjadi kanker. Dalam penelitian secara epidemiologik dan laboratorik ada beberapa faktor yang berperan secara langsung maupun tak langsung. Pertama, skrining atau penapisan. Dalam pemantauan perjalanan penyakit, diagnosis displasia sering ditemukan pada usia 20 tahunan. Karsinoma in situ pada usia 25-35 tahun dan kanker serviks invasif pada usia 40 tahun. “Untuk mendeteksi adanya kanker mulut rahim dengan cara tes pap yaitu pemeriksaan sitologi,”kata dia.
Kedua, penularan penyakit kanker ini melalui hubungan seksual. Penelitian awal menunjukkan tingginya kejadian kanker serviks pada perempuan lajang dan menikah pada usia muda. Terdapat pula peningkatan dua kali lipat pada perempuan yang mulai berhubungan seksual sebelum usia 16 tahun. “Juga meningkat pada perempuan dengan seksual partner yang multiple,” paparnya.
Ketiga, peran pasangan pria. Pada penelitian terhadap perempuan yang menikah dengan seorang laki-laki yang pernah mempuyai istri yang menderita kanker mulut rahim, kejadian penyakit kanker pada kelompok perempuan itu jadi meningkat. Keempat, karakteristik reproduksi dan menstruasi, dan terakhir faktor merokok.
Bambang memaparkan, untuk pengobatan kanker mulut rahim ditentukan oleh berat ringan penyakit atau stadium. Umumnya pada stadium awal tindakan operasi menjadi pilihan pertama. Pilihan modalitas pengobatan lain seperti penyinaran dan pemberian sitostatika (kemoterapi) dilakukan pada kasus yang lanjut atau khusus.
Namun, tegas Bambang, upaya pencegahan kanker serviks merupakan langkah yang mesti dilakukan. Cara yang bisa dilakukan dalam rangka menurunkan faktor resiko seperti mencegah hubungan seksual pada usia dini, faktor pada pria, jumlah pasangan seks, dan kebiasaan merokok. Pencegahan ini bertujuan menghilangkan resiko perilaku seksual yang meningkatkan paparan terhadap virus papiloma manusia.
Hal lain yang bisa dilakukan adalah memperbanyak mengkonsumsi sayuran berwarna hijau tua dan kuning yaitu yang banyak mengandung beta karoten, vitamin C dan vitamin
sumber: KlinikNet












